index Galeri Foto


Berita BCA


Komunitas Pedagang Tanah Abang: Dari Tasik Cari Peruntungan di Tanah Abang

Kenal Tanah Abang berarti kenal Pasar Tasik.  Melengkapi hiruk pikuk aktivitas perdagangan aneka produk tekstil di pasar terbesar di Asia Tenggara, Pasar Tasik hadir bagai madu yang menarik perhatian jutaan lebah.  Disebut Pasar Tasik karena mayoritas pedagangnya memang datang dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Produk unggulannya adalah busana muslim, baik untuk wanita maupun pria, seperti mukena, jilbab atau kerudung, gamis, baju koko dan sebagainya.

Pasar Tasik tersebar pada beberapa lokasi di Tanah Abang.  Di seberang stasiun  KA Tanah Abang, Blok F, Jati Baru, Blok G bahkan kini sebagian menempati lahan parkir di belakang Thamrin City. Uniknya, selain berdagang di lapak-lapak dengan peneduh tenda terpal, pedagang Pasar Tasik juga menggelar dagangannya di mobil-mobil minibus yang dibawa dari kampung halamannya atau disewa dari pengelola.

Pasar Tasik sudah ada sejak tahun 1989 dan hanya buka di hari Senin dan Kamis. Para pedagang  berangkat tengah malam dan mulai membuka lapaknya sejak subuh, lalu kembali ke kota asalnya pada pukul 2 siang. Kini, beberapa di antaranya ada yang “menetap” di kios-kios yang berlokasi di Jalan Jati Baru II, Kelurahan Kampung Bali, Tanah Abang.

Salah satunya adalah Wahid. Pria 39 tahun ini dulunya pengrajin bordir khas Tasikmalaya. Tertarik dengan kisah sukses beberapa rekannya yang lebih dulu berdagang di Pasar Tasik, Wahid pun mencoba peruntungan berdagang sendiri di pasar yang kini telah menjadi salah satu ikon Tanah Abang itu. Dia memasarkan aneka model baju koko berbordir dari Tasikmalaya. "Saya pengen mandiri. Kebetulan punya konveksi rumahan di Tasik, mengerjakan baju koko mulai dari jahit sampai hiasan bordir. Alasan saya berjualan di Pasar Tasik karena potensi penjualannya besar," ujar Wahid yang sudah dua tahun berjualan di Pasar Tasik.

Konveksi Wahid di Tasikmalaya Selatan diurus oleh sang istri. Dalam waktu seminggu bisa menghasilkan 1.000 potong baju koko. Wahid sendiri pulang ke kampung halamannya sekitar 2-3 minggu sekali untuk mengambil stok barang sekaligus memantau pesanan pelanggan.

Lebih lanjut Wahid menjelaskan, Pasar Tanah Abang merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara. Setiap hari tidak pernah sepi dari pembeli  yang berdatangan dari dalam dan luar negeri. Selain berbelanja ke berbagai blok pasar, para pembeli tersebut tak ketinggalan menyambangi Pasar Tasik dan membeli dengan sistem grosir.

Pria asal Cipatujah, Pamijahan Tasikmalaya ini mengklaim, kualitas aneka produk busana muslim dan muslimah yang berasal Tasikmalaya, apalagi yang berbasis bordir dikenal bagus dan harga jualnya pun sangat terjangkau untuk dijual kembali. Inilah yang menjadi daya tarik utama pembeli datang ke Pasar Tasik berbelanja busana muslim dan muslimah yang kini semakin nge-trend.

Prospek yang bagus membuat Wahid berani menyewa dua kios di Pasar Tasik Jl. Jati Baru II. Satu kios kecil di luar dan satu lagi yang berukuran lebih besar, sekitar 2 x 1,5 meter persegi di dalam pasar. Tak butuh waktu terlalu lama pemilik kios Al-Zirian itu sudah mendistribusikan produknya ke berbagai wilayah di Indonesia. Sedangkan untuk pasar luar negeri, dia menjual secara langsung ke pembeli asal Malaysia, Brunei Darussalam hingga Filipina hingga ratusan kodi.

Menurut pengamatan Wahid, banyaknya warga Cipatujah, Pamijahan, Tasikmalaya yang berbisnis konveksi dan berdagang di Pasar Tasik, telah menghidupkan perekonomian desanya, “Sekarang semakin banyak bank buka cabang di sana. Tetangga juga banyak yang bisa kredit kendaraan bermotor, membangun rumah, dan sebagainya,” tuturnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Rohayati. Wanita 40 tahunan asal Tasikmalaya Selatan itu semula ibu rumah tangga biasa. Keinginan untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga membuat istri seorang guru ini membuka kios di Pasar Tasik, Tanah Abang. Alasannya, dengan berdagang menetap, ia bisa menjaring pembeli bukan hanya di hari Senin – Kamis saja. Pasar Tasik dipilihnya karena di pasar ini ia dapat lebih mudah bertemu pembeli dari berbagai daerah bahkan dari negara lain. "Awalnya saya jualan di depan, cuma pakai meja lalu pindah ke dalam. Alhamdullilah baru setahun sewa kios disini saya sudah punya pelanggan dari Indonesia mulai dari Aceh sampai Sulawesi. Dari luar paling banyak dari Filipina," ujar Rohayati yang mengaku banyak menggunakan bahasa Inggris sekenanya dan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan pelanggannya dari Filipina.

Rohayati tidak memproduksi sendiri dagangannya berupa gamis dan baju atasan, tapi bekerja sama dengan pengusaha konveksi dan para pengrajin Tasikmalaya. Gamis dagangannya dijual secara grosiran, minimal lima potong tiap seri atau mode-nya. Busana muslimah itu dibanderol harga Rp 100.000 hingga Rp 190.000 per potong, sedangkan atasan dijualnya Rp 45.000 per potong. Gamisnya yang  berhiaskan bordir, payet, dan mute ini menjadi favorit pembeli dari Filipina yang kebanyakan merupakan reseller.  Ramadan ini Rohayati mengaku sudah mendapat pesanan dari pembeli Filipina sekitar 100 kodi gamis.

Karena harganya yang sangat kompetitif, tak jarang pedagang dari Blok B maupun Metro Tanah Abang kulakan dari toko Rohayati dan Wahid. Keduanya juga mengaku melayani pesanan makloon, yaitu proses produksi yang dikerjakan oleh pihak produsen dengan menggunakan merek pemesan.

Sebagaimana bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya, trend penjualan busana muslim dan muslimah cenderung meningkat, namun demikian Wahid dan Rohayati mengaku, peningkatan penjualan tahun ini tidak sedrastis sebelumnya. "Biasanya peningkatan penjualan bisa mencapai 90 persen, kali ini hanya sekitar 70 persen," terang Wahid yang diamini Rohayati.

Mereka menduga karena Ramadan kali ini bersamaan dengan kenaikan kelas serta pemilihan presiden sehingga terjadi penurunan penjualan. Tapi keduanya optimistis, penjualan akan kembali meningkat menjelang Idul Fitri. 

Usaha konveksi busana muslim dan muslimah serta kerajinan  bordir Tasikmalaya memang sudah dikenal luas, namun magnet Pasar Tasik demikian kuat menarik mereka untuk memasarkan produksinya  jauh hingga ke Tanah Abang. 

Untuk mempermudah transaksi pembayaran, Rohayati dan Wahid mengaku menggunakan produk perbankan seperti Giro. Rohayati menggunakan rekening PT Bank Central Asia Tbk (BCA) untuk menyelesaikan transaksi pembayaran. "Kebanyakan supplier sama pelanggan saya pakai BCA, jadi transfer dana lebih mudah pakai BCA," tutur Rohayati. 

Karena banyak pelanggannya juga menggunakan rekening BCA, Wahid pun berencana untuk membuka rekening BCA di daerah asalnya, Tasikmalaya. Di mata Wahid, BCA memiliki nama yang bonafide. Pelanggannya pun banyak yang menggunakan fasilitas transfer atau Giro BCA. “BCA memang OK banget . Saya mau buka rekening BCA di Tasik supaya dagang semakin lancar. Semoga BCA menambah cabang lagi di Tasikmalaya, jadi semakin dekat,” harapnya.

BCA Senantiasa di Sisi Anda

 

 




Jika Anda mempunyai pertanyaan atau saran,kirimkan email ke beritabca@kompas.com