index Galeri Foto


Berita BCA


"Ngantor" Pakai Pakaian Dalam di Dunia yang Datar

“Ngantor bisa di Pulau Alor, ngantor enakan pakai kolor, siapa bilang yang begini bukan ngantor, ini baru ngantor..”

KOMPAS.com– Anda pernah mendengar kalimat di atas? Ya, benar, itu kata-kata dalam tayangan komersial iklan rokok.  Tulisan ini tidak ingin mengulas soal rokok, tapi konsep masyarakat zaman ini tentang kantor dan ke kantor.


Belum lama berlalu, konsep tentang bekerja di kantor adalah pakaian rapi dan berkumpul bersama secara fisik di sebuah ruangan di gedung tertentu. Setidaknya, sejak satu dasawarsa terakhir konsep kantor dan ke kantor berubah total. 

Berkantor tidak melulu berarti berpakaian rapi apalagi pakai dasi dan berkumpul secara fisik di sebuah ruangan atau gedung. Berkantor bisa dilakukan di mana saja. Pekerjaan di Jakarta dapat dilakukan di Pulau Alor, bahkan hanya mengenakan kolor.

Itulah zaman kita saat ini. Bumi tidak lagi besar. Ruang dan waktu bukan lagi hambatan. Dunia tidak lagi bulat, tapi datar, kata Thomas L. Friedman dalam bukunya “The World is Flat”. Datar yang dimaksud Friedman adalah dunia ini tak lagi memiliki tapal batas. Segala hal di dunia ini bisa dikendalikan dari jarak jauh. 

Seorang pialang saham di Indonesia, misalnya, dapat mengendalikan perdagangan di lantai bursa Eropa dari kamar kerjanya. Seorang customer service di India dapat melayani keluhan penumpang pesawat di Amerika yang kehilangan tasnya. Semua ujung bumi kini dapat terhubung satu sama lain. Individu-individu di segala sudut dunia dapat bekerja bersama tanpa harus saling bertatap muka.

Salah satu faktor yang membuat dunia ini menjadi datar, demikian Friedman, adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menemukan perangkat digital dan layanan nirkabel. Internet adalah salah satu “biang kerok”nya. Internet menghubungkan seluruh dunia. Teknologi digital membuat beragam hal dapat didigitalisasi dan disebarkan dengan mudah. “….thanks to the PC-Windows-Netscape-work flow revolutions, all analog content and processes- everything from photography to entertainment to communication to word processing to architectural design to the management of my home lawn sprinkler system-are being digitized and therefore can be shaped, manipulated, and transmitted over computers, the Internet, satellites, or fiber-optic cable,” tulis Friedman.

Maka, tak heran jika ungkapan enakan ngantor pakai kolor bukanlah bualan atau impian kosong belaka. Banyak generasi zaman ini yang memang tak perlu lagi berdandan necis dalam bekerja. Mereka bekerja di rumah dan tetap terhubung dengan dunia luar seluas-luasnya. Tak sedikit yang merintis jaringan bisnis dari rumah mereka, termasuk para ibu rumah tangga.

Peluang baru di dunia digital ini membuat gembira para ibu rumah tangga. Mereka bisa produktif di rumah tanpa harus meninggalkan buah hati tercinta. 

Home working mom

Sebut saja Fita Pertiwi (27). Sejak lima tahun silam, ibu satu orang anak ini telah menjajaki bisnis asesoris lewat media sosial. Kisahnya dimulai pada 2009 saat ia mencoba memproduksi sendiri asesoris dari flanel, rajutan, serta berbagai macam jenis kain, dan memasarkannya melalui Facebook, Blackberry Massenger, serta Kaskus.

Ibu dari Shaquille Faathir Auliaitu  melihat media sosial sebagai peluang pasar potensial. Siapa yang tidak punya akun Facebook?  Menurut Fita, hampir semua orang  di dunia mempunyai akun Facebook.

The Guardian menyebut, sampai dengan akhir tahun  2013 tercatat ada 1,2 miliar pengguna aktif Facebook di seluruh dunia. Menurut catatan Social Bakers, Indonesia adalah negara dengan populasi pengguna Facebook terbesar keempat di dunia setelah Amerika, India, dan Brazil.  Anand Tilak, Country Manager Facebook untuk wilayah Indonesia, menyebut, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 69 juta akun pada 2014.

Dengan Facebook, kata Fita, ia dapat berinteraksi mudah dengan para konsumennya. “Terus gampang lihat fotonya dan komentarnya,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (11/9/2014).

Ketika merintis usahanya lima tahun silam, Fita mengaku hanya bermodalkan satu foto bros cantik yang diunggahnya ke akun Facebook  dan disebarkannya melalui broadcast Blackberry Messenger (BBM). 

Selanjutnya, sambil menunggu kabar gembira yakni respons dari pembeli, Fita fokus menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Pertama kali memulai usahanya pada 2009 Fita masih duduk di bangku kuliah.

Bermodal awal Rp 100.000, semua dagangan Fita terjual habis. Ia mendapat pemasukan Rp 300.000. Pembeli pertamanya waktu itu adalah orang Tegal. Ia tak pernah kenal dan tak pernah berjumpa dengan pembeli pertamanya itu. Bermodalkan kepercayaan, Fita mengirimkan lusinan bros kepada pembeli pertamanya.

Dengan kemudahan pemasaran online, Fita pernah melayani pemesan terjauh yakni dari Papua. Saat ini ia menerima pesanan dalam jumlah besar dari Jakarta, Serang, Banten.

Bros-bros cantik Fita dibanderol mulai Rp 20.000 per lusin hingga  Rp 200.000 per lusin. Jika pesanan sedang ramai, Fita bisa meraup omzet hingga Rp 1.000.000 per minggu. Jika pesanan sedang sepi, paling tidak ia bisa mendapatkan Rp 500.000 hingga Rp 600.000per minggu. Keuntungannya, 150 persen dari modal.

“Pembelian paling sedikit  Rp  50.000, paling banyak Rp 2.000.000. Paling enggak tiap enam bulan sekali pasti ada yang order  sampai Rp 2.000.000,” imbuh Fita.

Tak hanya Fita,  Imelda atau akrab disapa Melda juga melakoni profesi sampingan sebagai “home working mom”. Ibu tiga orang anak ini menjajakan baju-baju lewat Blackberry Massenger. “Aku jualan pakai 5 BB (Blackberry),” kata Melda kepada Kompas.com, Rabu.
Melda menjual baju-bajunya melalui toko online (OS) Azzaky Shop, dibanderol mulai Rp 75.000 hingga Rp 120.000. Ia mengaku lebih banyak menerima order dalam bentuk eceran. Sebab, kata dia, jika dipesan dalam partai besar atau grosiran, reseller harus mengumpulkan sejumlah pembeli terlebih dahulu. Itulebih repot daripada melayani pembeli eceran.

Tetap Dekat dengan Si Kecil

Bagi Fita maupun Melda, menjadi “home working mom” memberikan banyak kenyamanan. Memiliki banyak quality time dengan si kecil dan tetap produktif secara ekonomi adalah kenikmatan sebagai seorang ibu. Mereka pun bisa membantu suami menambah pundi-pundi rumah tangga.

“Senengnya ora usah lunga neng endhi-endhi, ora usah dandan ayu-ayu, ora usah tangi esuk, ora usah nyewa toko, tetep payu. Ora usah adus juga tetep payu. Nek saiki, plus karo momong, karo nyusui, tetep  iso dodolan. Nek pas kuliah, sambi neng kelas, iso dodolan. (Senangnya enggak usah pergi kemana-mana, enggak usah dandan cantik-cantik, enggak usah bangun pagi, enggak usah nyewa toko, tetap laku. Enggak usah mandi juga tetap laku. Kalau sekarang, plus merawat,  juga menyusui anak, tetap bisa jualan. Kalau pas kuliah, sembari di kelas, bisa jualan),” cerita Fita soal kelebihan menjadi “home working mom”.

Begitu juga dengan Melda. Dia mengaku banyak sekali keuntungan bekerja dari rumah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. “Apalagi untuk ibu rumah tangga seperti saya. Pekerjaan saya sebagai seorang istri dan ibu tidak terbengkalai, karena kita bisa mengerjakannya dari rumah,” ucap wanita berusia 29 tahun itu.

Di dunia yang datar ini, urusan transaksi pun tak perlu dilakukan dengan tatap muka dan tunai. Semua bisa berlangsung secara elektronik, non tunai, melalui mobile atau internet banking. Realitas kita memang telah berubah. Wajah uang masa kini tidak lagi bertumpuk dalam bentuk kertas, tapi deretan angka yang terpampang di layar telepon atau monitor komputer kita. 

“Enggak perlu capek-capek kita harus keluar rumah, cukup upload dan share daganganku ke customer. Setiap pesanan saya tinggal minta supplier untuk packing dan kirim. Setelah itu, tinggal ambilin keuntungannya yang udah masuk ke rekening kita,” sambung Melda.(Estu Suryowati).




Jika Anda mempunyai pertanyaan atau saran,kirimkan email ke beritabca@kompas.com