index Galeri Foto


Berita BCA


JF Dedy Winata: Pintar Menangkap Peluang Bisnis Developer

Ketika orang-orang lebih memilih menyerah, JF Dedy Winata tetap maju dan melihat suatu hambatan sebagai sebuah peluang. Ini membuatnya berbeda dari kontraktor lainnya saat itu.

"Waktu krisis moneter di tahun 1998 kita sempat mengalami kerugian karena saat itu harga bahan bangunan naik. Saya berusaha tenang karena banyak kontraktor yang lari dan tidak menyelesaikan pekerjaannya. Namun prinsip saya tidak akan lari dan tetap melanjutkan proyek," urai owner PT Bali Mitra Investama, JF Dedy Winata ketika ditemui di Harris Hotel Sunset Road, Kuta yang juga merupakan bagian dari usahanya, Senin (22/9).

Malah dari situ ia melihat adanya kesempatan untuk melanjutkan proyek klien lain yang ditinggalkan oleh kontraktornya sehingga bisa menutup kerugian. Pria yang akrab disapa Dedy ini bahkan mensuplai furniture sehingga meningkatkan pendapatan dan klien menjadi senang.

Putra keempat dari lima bersaudara ini mengisahkan, perjalanannya terjun ke dunia developer dimulai setelah menamatkan pendidikan dari Jurusan Arsitektur di Universitas Kristen Petra, Surabaya tahun 1997. Baginya, menggambar merupakan hobi dan pekerjaan yang dijalankan berlandaskan passion akan menyenangkan.

"Awalnya memulai dari jasa gambar, kemudian kontraktor dan selanjutnya developer. Saya juga mulai membuat properti, namun bukan untuk dijual, seperti hotel dan mini market," urainya. Yang mengesankan, sejak tamat kuliah, Dedy sudah mulai membangun usahanya sendiri. Ia yang terlahir dari latar belakang ayah seorang dokter dan ibu pengelola toko emas lebih mengikuti darah ibunya dalam hal bisnis.

"Kemampuan dalam bisnis menurun dari bakat ibu. Beliau sering menanamkan dalam bisnis, harus berani, percaya diri dan jujur. Serta satu hal yang paling ditekankan, anak-anaknya tidak boleh bekerja ikut orang, tetapi bekerja sendiri," ungkapnya. Benar saja, mereka semua bekerja dengan bendera sendiri dan tidak ikut orang. Dari Jawa memutuskan pindah ke Bali karena melihat kesempatan proyek ada di Bali.

"Saat itu investasi sangat berkembang di Bali dan marketnya naik terus sampai saat ini. Saya mulai membangun usaha developer pada 2002 di Sanur. Saat itu sehabis bom Bali, namun mencengangkan karena properti yang saya jual habis dalam enam hari," kenangnya.

Menurutnya, itu bisa terjadi karena ia menawarkan properti dengan konsep yang berbeda. Saat itu belum ada yang bermain system cluster dengan keamanan sebagai prioritas, dan one gate system. Bisa dikatakan, Dedy merupakan pelopor one gate system di Bali saat itu dan banyak peminatnya karena lebih aman.

"Prinsip dalam bisnis, kita harus tanggungjawab, kreatif dan berani bermain yang beda," ungkap pria kelahiran 1974 ini. Dedy juga berencana membangun mini mall di Nusa Dua, Bali, bernama Sunset Park di atas lahan seluas 11 ribu m2 yang akan menampung berbagai merchant, sebagai pusat kuliner, shopping dan tempat rekreasi.

Hingga saat  ini Dedy sudah membangun lebih dari 10 perumahan dengan segmentasi menengah atas dan proyek villa."Ada banyak developer, namun kita tetap eksis karena kita membuat konsep yang beda. Seperti villa kita buat masing-masing unit bisa direct ke pool sehingga menarik," ungkapnya.

Dalam menunjang permodalan, Dedy  memilih bermitra dengan  BCA. Menurut bapak tiga anak ini, pola pikir managemen BCA seperti pengusaha sehingga “nyambung” ketika dia mengajukan kredit atau membutuhkan solusi bisnis.

"Saat kita perlu dana dengan nominal tertentu, mereka juga berfikir logis sehingga sangat memudahkan," kata pria yang sudah sejak 1994 menjadi nasabah BCA Kuta ini. Permodalan dari BCA dimanfaatkan untuk pembangunan convention center dan mini mall.

Dedy mengaku fokus pada usaha developer, sedangkan untuk Harris Hotel maupun Rai Fitness yang dibangunnya bekerjasama dengan atlet Ade Rai sudah ada manajemen yang mengatur sehingga dia sangat dimudahkan.

"Convention center yang sedang dibangun terdiri dari ballroom dan enam meeting room, sebab arah hotel ini akan menuju MICE," ungkapnya sambil menunjukkan sebuah ruangan meeting yang kental nuansa budaya Bali yang saat ini dalam tahap pengerjaan. Hotel bintang tiga ini memiliki jumlah kamar sebanyak 195 dengan okupansinya saat ini mencapai 70 persen.

Pria pehobi renang ini mengaku masih punya angan-angan untuk mewujudkan kota mandiri. 
"Pasaran properti yang saya buat selama ini memang menengah ke atas. Kalau ada kesempatan membuat kota mandiri maka saya akan buat perumahan dengan harga murah. Semoga segera terwujud" harap pria ramah ini. BCA Terdaftar dan Diawasi OJK. (day/adv)

BCA Senantiasa di Sisi Anda




Jika Anda mempunyai pertanyaan atau saran,kirimkan email ke beritabca@kompas.com