BACK TO HOME

Belajar dari Hammarby Sjöstad, Swedia: Model Pengembangan Kawasan Berbasis Infrastruktur Hijau

Ditulis oleh: Admin, Puslitbang Jalan dan Jembatan,

Dibaca: 1897

Maret 14, 2013

  Hammarby Sjöstad adalah kawasan industri yang dibangun sebagai penunjang pertumbuhan Kota Stockholm sebagai kota inti. Kawasan di berada di sebelah tenggara pusat kota. Kawasan dibangun tahun 1940 yang sampai dengan tahun 1980 menjadi kawasan penting yang menyediakan lapangan kerja bagi warga kota. Jaringan transportasi yang terkoneksi dengan pusat kota dikembangkan untuk mengakomodasi pergerakan pekerja ke luar maupun ke dalam kota.

Dengan letak berada di dekat perairan terbuka, maka aktivitas industri memberikan pengaruh terhadap tingginya kandungan zat pencemar yang mengurangi potensi pemanfaatannya sebagai air bersih. Lahan yang digunakan sebagai lokasi pabrik mengalami pencemaran tanah yang membutuhkan waktu yang lama bagi pemulihannya. Atas kondisi ini, pemerintah kota berkomitmen untuk mengubah kawasan industri tua dan pelabuhan ini menjadi kawasan kota modern.

Rencana pembangunan ulang kawasan ini bertujuan untuk menyediakan sarana dan prasarana bagi pemukim. Kawasan direncanakan untuk dilengkapi dengan sarana dan prasarana (termasuk tempat tinggal berkepadatan tinggi) bagi lebih 26.000 jiwa penduduk, serta sarana dan prasarana bagi lebih 36.000 jiwa penduduk yang tinggal dan bekerja di dalam kawasan. Seluruh konstruksi direncanakan akan dapat diselesaikan sampai dengan tahun 2018.

 
 

 

Gambar A. Layout Pengembangan Kawasan Hammarby Sjöstad (sumber: Stockholms Stad Plan, 2003)

Kawasan direncanakan akan dihuni oleh penduduk berjumlah 25.000 jiwa pada area seluas 250 Ha. Sampai dengan saat ini, kawasan masih berproses untuk melengkapi diri dengan infrastruktur hijau. Melalui riset yang terencana, disertai dengan regulasi/ standar yang ketat dan dukungan komitmen warga, dan pemerintah dalam implementasi rencana.

Sebuah Model Pengembangan Infrastruktur Hijau

Kota Stockholm memiliki regulasi lingkungan dan bangunan yang sangat ketat dan diadopsi seluruh kawasan di dalam kota. Program lingkungan khusus pun ditetapkan untuk mengelola kawasan Hammarby Sjöstad oleh Pemerintah Kota Stockholm. Tujuannya untuk mengurangi footprint lingkungan sebesar setengah dibandingkan dengan area terbangun pada awal 1990-an. Adanya ketentuan ini dipandang sebagai solusi dan memungkingkan pengembang untuk menerapkan metode baru, sehingga instansi-instansi berwenang dapat terlibat bersama dalam tim.

Proses perencanaan kawasan tergolong unik dan berupaya mendorong kreasi atas solusi lingkungan baru secara terintegrasi. Partisipasi masyarakat dijalankan secara konsisten dengan menampung aspirasi dan berbagai perspektif atas perubahan yang diinginkan. Sejak tahap perencanaan, berbagai usulan teknologi coba diakomodasi untuk mendukung model pengembangan kawasan yang bertumpu kepada pembangunan infrastruktur hijau. Model ini yang dikenal dengan Hammarby Model.
 

 

Gambar B. Model Pembangunan Fisik di Kawasan Hammarby Sjöstad

 (Sumber: Hammarby Sjöstad, tanpa tanggal)

 

Hammarby Model memiliki  prinsip pembangunan berkelanjutan dengan proses cradle to cradle dalam pengolahan sumber daya yang digunakan. Dalam hal ini, pembangunan bertujuan untuk menggunakan material dan energi seefisien mungkin, serta meminimalkan sampah maupun material yang dihasilkan dari proses aktivitas perkotaan. Penerapan prinsip ini dilakukan terhadap unsur kunci infrastruktur, yaitu energi, sampah, dan air (termasuk limbah) yang memperlihatkan karakter konstruksi hijau (McDonough dan Braungart, 2003). Dalam perkembangannya, model ini diadopasi oleh The Swedish Trade Council menjadi model bagi kota berkelanjutan yang dikenal dengan Simbiocity (Ranhagen, dkk., 2010).

 

Infrastruktur Energi

Sebagai negara dengan iklim subtropis dan dengan musim panas yang singkat pemanfaatan energi sangat penting untuk penghangat ruangan di dalam gedung. Hammarby Sjöstad menerapkan pola produksi energi yang bertumpu kepada pemanfaatan sampah dan pengembangan teknologi terbarukan.

Sampai dengan berakhirnya program, kawasan diharapkan dapat memproduksi 50% bahan bakarnya sendiri untuk membangkitkan energi bagi berbagai kebutuhan. Oleh karena itu, pabrik pembangkit panas dibangun di kawasan Högdalen untuk memproduksi district heating dan listrik. Pembangkit energi listrik di Hammarby turut memanfaatkan panas dari limbah yang diproses untuk menghasilkan panas bagi gedung - gedung. Selanjutnya, air limbah yang sudah mendingin disirkulasikan ke dalam jaringan pendingin di dalam kawasan.

Dengan jumlah energi yang tidak melimpah, pemerintah tetap berkomitmen agar energi materi dapat dikonversi menjadi energi listrik melalui panel surya. Panel surya dibangun pada beberapa lokasi fasade dan atap. Terdapat gedung yang digunakan secara khusus untuk mmenyediakan energi listrik untuk komunitas.  Sampai saat ini, seluas 390 m2 panel surya telah diinstal pada atap gedung, dengan penggunaannya terutama untuk listrik bagi pemanas air (meskipun hanya 50% dari kebutuhan).

 
 

Gambar C. Pemanfaatan Panel Surya untuk Penerangan Jalan yang Secara Luas Digunakan (Sumber: Suprayoga, 2012)

Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah didasari paradigma bahwa sampah merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Produk baru dapat dikembangkan melalui daur ulang sampah yang memungkinkan lingkungan alamiah dapat diselamatkan.

Terdapat tiga tingkatan pengelolaan sampah, yaitu rumah tangga, blok, dan kawasan. Dilihat dari volume yang dihasilkan rumah tangga, termasuk di dalamnya sampah makanan dan kertas yang terbesar. Pada skala rumah tangga tersebut dipilah dan ditempatkan pada berbagai kotak sampah yang diperuntukan di sekitarnya. Pada tingkatan blok, sampah didaur ulang dengan menyediakan ruangan khusus pada tiap blok bagi sampah berupa paket makanan, sampah elektronik, dan sampah dengan ukuran besar. Pada tingkat kawasan, sampah yang dikumpulkan meliputi sampah B3, seperti cat, lem, baterai, dan bahan kimia lainnya yang dipilah dan ditangani secara khusus di pusat pengumpulnya.

Pada beberapa lokasi, dibangun sistem koleksi sampah otomatis yang berupa pipa saluran terkoneksi di bawah tanah yang membawa sampah, khususnya sampah rumah tangga melalui penyedot vacuum. Sistem pengendali canggih mengirimkan bagian-bagian sampah menuju wadah yang sesuai dengan kategori sampah. Dengan demikian, truk pengumpul sampah dapat mengumpulkan wadah tanpa menuju area, yang dapat menghemat energi.

 

Pengelolaan Air dan Limbah

Salah satu tujuan lingkungan kawasan adalah mengurangi konsumsi air sampai dengan setengah kondisi saat ini. Penduduk Stockholm menggunakan air sebanyak rata-rata 200 L/orang/air. Saat ini konsumsi air di kawasan mencapai 150 L. Pemanfaatan teknologi secara meluas didorong untuk mencapai target yang ditetapkan.

Pemerintah menempatkan teknologi  baru bagi soluasi pengelolaan air dan limbah. Sjöstadsverket, sebuah pusat pengolahan limbah yang masih dalam tahap uji coba dibangun untuk melayani 600 orang. Sludge limbah dialirkan dari pusat pengolahan limbah setelah mengalami proses biodigested dan ekstrasi biogas. Saat ini, biogas dimanfaatkan untuk bus dan sekitar 1,000 kompor gas rumah tangga. Sludge yang tersisa digunakan sebagai pupuk.

Dalam penanganan air permukaan, kawasan menerapkan proses lokal. Air permukaan akibat hujan dan es yang mencair diinfiltrasikan ke dalam tanah dan sebagian diarahkan ke Sickla Kanal, Hammarby Kanal. Air yang bersumber dari jalan diolahan melalui pengolahan terbuka maupun tertutup sebelum dialirkan ke perairan terbuka.

Inovasi lainnya adalah pemasangan atap hijau (green roof) pada beberapa bangunan. Atap ini didesain untuk mengumpulkan air hujan, menahan, dan mengalirkannya. Tanaman juga menolong untuk menyediakan insulasi panas, yang secara bersamaan menciptakan lingkungan hijau di kawasan.

Sebuah Pembelajaran bagi Pengembangan Kawasan berbasis Infrastruktur Hijau 

Model pengembangan kawasan yang ditunjukkan oleh Hammarby Sjöstad merupakan proses perencanaan jangka panjang yang dilakukan secara partisipatif. Proses ini sekaligus merupakan sarana belajar bersama antara perencana dan warga.  Komitmen awal warga yang melihat adanya kebutuhan bagi perubahan lingkungan yang lebih baik memainkan peran sentral. Komunikasi yang dijalin dengan perencana sejak awal menjadi upaya menyatukan visi dan persepsi publik atas kondisi pada masa mendatang yang diharapkan. Secara teknis, target lingkungan ditetapkan dengan melihat regulasi pada tingkat lokal sampai dengan Uni Eropa untuk menghasilkan dampak lingkungan  yang sedikit mungkin, yang disepakati bersama.

Sejak awal, kawasan ini dimantapkan sebagai area yang dibangun dengan konsepsi pembangunan berkelanjutan. Dengan pemanfaatan teknologi yang ekstensif, biaya program pengembangan kawasan ini memang terasa "mahal", yaitu berkisar 3 milyar dollar Amerika. Pengembang dan pemerintah tidak segan untuk menerapkan teknologi baru yang masih dalam tahap uji coba. Pemanfaatan teknologi ini memainkan peran sentral dalam mencapai target lingkungan yang ambisius, yang salah satunya memanfaatkan biogas bagi kebutuhan pasokan bahan bakar bus kota Stockholm.

Manfaat yang besar tentu saja dinikmati oleh masyarakat. Dengan kondisi lingkungan yang terjaga, serta pengembangan kawasan secara berkelanjutan, kesejahteraan masyarakat meningkat yang salah satunya ditunjukkan oleh tingkat harapan hidup yang lebih tinggi dari semula. Sampai dengan saat ini, kawasan Hammarby Sjöstad menjadi sekaligus daerah wisata yang dikunjungi oleh hampir 13.000 wisatawan dari seluruh dunia. [ ]